Pernikahan

for everyone

Dalam menjalani kehidupan rumah tangga, semua orang akan mengatakan sama, berharap langgeng sampai akhir hayat. Bahkan kalau Allah berkenan, berharap perjalanan biduk terus bisa berjalan sampai kelak di akhirat, sehingga dapat bersama mengarungi bahtera indahnya kehidupan di Surga.
Namun dalam alam nyata tidak semua orang mampu mempertahankan keutuhan rumah tangga. Ada sebagian orang yang terpaksa atau mesti ikhlas berpisah dengan orang yang dicintainya manakala rumah tangga belum lama berjalan atau masih di tengah lautan cinta. Ada hal-hal tertentu yang tak mungkin bagi keduanya untuk terus dilanjutkan kebersamaan. Berpisah menjadi jalan terbaik daripada semakin tidak karuan.
Di sinilah setiap orang yang berumah tangga dituntut paham betul bahwa ada bayak hal yang bisa mengancam keutuhan rumah tangga selama diarungi dan dilayari. Mulai sifat, sikap, perilaku, pemahaman agama, hingga hadirnya orang ketiga kadangkala menjadi pemicu terjadinya perselisihan yang kemudian berujung perceraian.
Namun, hakikatnya seperti sakit, pasti ada obatnya kecuali maut. Demikian pula rumah tangga. Masih ada jalan/cara penyelesaian lain sebelum kalimat cerai diucapkan. Insya Allah, Allah akan memberi jalan keluar hamba-Nya bila selalu berusaha kemudian tawakal kepada-Nya.
Sedini mungkin tanamkanlah "HINDARI PERCERAIAN".

SIFAT DAN PERILAKU
Dalam kaitan dengan hal ini, banyak sifat dan perilaku yang bisa membuat suami atau istri kecewa. Seperti sifat pemarah atau temperamental (baik suami maupun istri). Hal itu bisa membuat pasangannya tidak suka dan pada akhirnya tidak tahan. Sifat lain, umpamanya pencemburu berat, sangat manja, suka su'uzhan, tidak taat pada suami, suka bermaksiat, dan lain sebagainya. Semua perkara tersebut bisa menjadi pemicu retaknya rumah tangga.

BILA PEMICU DARI ISTRI
Perilaku istri seringkali pemancing bagi terjadianya perceraian. Seorang ikhwan pernah curhat tentang istrinya bahwa seringkali ia ingin mengeluarkan kata cerai saat melihat "pembangkangan" istrinya. Ia tak kuat terus berada dalam "rongrongan" sang istri. Kadangkala sampai ia berpikir istrinya pendurhaka dan orang yang membawa sial. Tentu sifat/sikap istri tersebut benar-benar telah menyakitinya. Membuatnya kecewa luar biasa. Dan perlu diketahui bahwasanya kebanyakan ikhwan (suami) lebih panjang dalam berpikir dan merasakan sesuatu. Kalau sampai ia berpikir seperti itu berarti istrinya yang sudah kebangetan. Secepatnya seorang istri mesti segera introspeksi diri. Jangan sampai berlarut yang akhirnya meledak. Padahal kalau seorang suami sudah meledak kemarahannya bisa berakibat fatal, di antaranya menghajar, membunuh, memaki, atau mentalak. Allahu Akbar! Tentu bukan itu yang diharapkan. Sudah selayaknya setiap istri banyak introspeksi diri. Apa yang telah dilakukannya hari ini, apa yang telah diperbuatnya minggu ini, dan apa yang telah dilakukannya bulan ini. Adakah yang membuat suaminya kecewa? Hendaknya terus dicoba untuk dibangun komunikasi yang baik antara keduanya.
Istri semestinya bisa memulai untuk banyak bertanya kepada suaminya dan bersabar ketika menerima "kejujuran" suaminya. Karena kadangkala kejujuran suami membuat istri sakit hati. Namun percayalah kalau memang itu kekurangan atau sebuah kesalahan, bersegeralah istri meminta maaf kemudian memperbaikinya. Kemarahan/kekecewaan suami biasanya mereda manakala melihat rona penyesalan yang tulus dari sang istri. Secara otomatis hatinya akan luluh karena kesenduan istri tidak/belum dimaafkannya. Tentu hal ini terjadi pada suami yang paham agama dan mengerti bagaimana wanita. Mengerti sudah kodratnya wanita bengkok dan sering berbuat salah. Sepantasnyalah para istri sering merayu suaminya untuk mendapatkan ridha dan maaf atas kesalahannya.

BILA SUAMI PANGKAL MASALAHNYA
Tidak hanya istri, suami pun seringkali menjadi biang keladi dari ketidakharmonisan keluarga. Ia yang memicu terjadinya kekecewaan istri yang sangat mendalam. Padahal istri telah berbuat semaksimal mungkin untuk membuat suaminya selalu bahagia. Dan istri butuh dihormati atas apa yang dilakukannya. Sehingga wajarlah bila pada akhirnya istri tak tahan ketika terus diperlakukan tidak adil, tidak dihormati, atau tak disayangi oleh suaminya. Biasanya istri yang kecewa akan menumpahkan perasaannya dengan "membangkang" pada suaminya. Banyak membantah atau balas berperilaku serupa dengan suaminya. Keadaan seperti itu tentu tidak baik bagi jalannya biduk rumah tangga. Oleh karena itu, selayaknya pula suami pun rajin introspeksi diri. Sudahkah hari ini suami mengasihi istri, menyayanginya, bersikap lembut kepadanya, menghargainya, dan membuatnya tertawa atau senang? Seorang suami semestinya mampu membuat istri ingin selalu dekat di sampingnya. Karena hal tersebut merupakan cerminan kepuasan istri pada suaminya. Yakinlah, istri akan semakin sayang bila suami menyayanginya setulus hati. Sebaliknya pun demikian.
Kejelekan suami yang banyak terjadi dan menjadi pemicu ketidakharmonisan rumah tangga adalah sikap yang sewenang-wenang terhadap istri atau tidak bertanggung jawab terhadap keluarganya. Bagi seorang istri, kedua sifat tersebut cukup fatal bila dimiliki seorang suami. Bagi yang tidak tahan, maka akan dipastikan rumah tangga takkan bertahan. Wanita tidak kuat dibuat terus menekan perasaan apalagi merekalah manusia yang sangat perasa. Sehingga ketika rasa tertekan dalam diri tak tertahankan, lontaran cerai pun akan terucap dari mulutnya. Lebih baik bercerai daripada harus hidup menderita dan dalam bayang-bayang suami yang bersifat egois dan temperamental.

SOLUSI... SALING MENGERTILAH...!
Namun, tentu seorang istri tidak mudah meminta cerai gara-gara kecewa dengan suaminya. Yang hendaknya dilakukan adalah mencoba untuk terus mengkomunikasikannya. Bangunlah pilar nasihat dalam keluarga. Biasakan untuk saling mengingatkan bila ada salah satu yang berbuat salah. Insya Allah, kalau suami mengerti agama ia akan dengan senang hati dinasihati, apalagi dari istri tercinta demi kebaikan bersama.
Suatu keluarga yang baik akan selalu mengutamakan keharmonisan, bukan sebaliknya. Di sinilah baik suami maupun istri mesti selalu berkomitmen untuk terus bersama. Masalah takkan memisahkan keduanya kecuali maut yang menjemput. Apalagi hanya masalah karena dunia. Kebersamaan selamanya lebih penting daripada sekedar materi dan dunia.

Template by : ofitadrian.blogspot.com